Langsung ke konten utama

Keseruan Live In bersama Keluarga Bu Rastini

Halo, Saya Stiven, usia 20 tahun sekarang berkuliah di Binus University semester 6.

Berasal dari satu kampung yang dikenal dengan sebutan Bengkalis, merupakan pulau yang terletak di selat malaka dan bagian dari provinsi Riau. Merantau ke pulau jawa tepatnya jakarta untuk menempuh pendidikan yang lebih baik dengan harapan masa depan yang lebih baik. Berasal dari keluarga yang sederhana, tercukupi kebutuhan hidup, pendidikan, dan kehidupan. Masuk kedalam fase nyaman dalam hidup membuat saya memasuki neutral state dalam hidup. Kadang punya mimpi dan mau berjuang, kadang yasudahlah saya tak mau memperhatikan apapun yg terjadi. 

Kenyamanan yang diberikan oleh orang tua saya membuat saya betul betul nyaman. Sehingga tak jarang tak punya usaha untuk berbuat sesuatu bagi diri saya maupun orang lain. Pola kehidupan seperti ini menghasilkan sosok yang individualis. I don't care about you, others, anyone except me. Padahal sesungguhnya, kehidupannya di kampung pada masa kecil jauh dari kata nyaman yang diperolehnya skrg. Itulah sifat dasar manusia. Ketika sudah nyaman, melupakan kisah perjuangan ketika dimasa susah. Saya secara pribadi melihat banyak sekali teman saya yang sama dengan saya. Wajar karena kita tinggal di satu lingkungan yang sama menghasilkan karakter yang lebih kurang sama.

Individualis, modernisme, egois, apatis, tidak berempati dan tidak bersimpati. Sangat buruk. Melupakan nilai dasar bangsa indonesia yang kolektivis dan gotong royong. Tak bisa dipungkiri, lifestyle saat ini dan lingkungan membentuk sosok sosok anak muda yang seperti itu. Miris? Iya! Sering saya flashback kembali waktu yang telah saya habiskan untuk aktivitas" saya yang tidak berguna. Sia-sia. Padahal, jumlah waktu yang sama dapat digunakan untuk membantu diri saya menjadi lebih baik dan membantu org banyak.

Saya katakan pada diri saya dibalik kaca, kamu beruntung. Jalan hidupmu masih sempat dibelokkan ke hal hal yang positive. Bertemu komunitas yang mndorong saya untuk berubah. Bertemu guru, mentor dan teman baik yang membimbing saya, menunjukkan arti hidup yang sebenarnya. Ppan dki jakarta 2017 adalah komunitas dan keluarga baru yang kembali mengingatkan siapa saya sebenarnya. Mereview kembali sejarah hidup saya. Serangkaian kegiatan selama seleksi, sangat membantu untuk betul betul mengeksplore siapa saya, apakah passion saya, dan mengexercise pola pikir dan karakter saya. 


LIVE IN CILINCING 2017

Live in seyogiyanya memberikan kesempatan bagi peserta untuk menjalani hidup persis seperti yang dijalani oleh penduduk setempat. Tidak mementingkan apapun kondisi dan situasi, kita masuk berbaur dan merasakan secara langsung kehidupan yang dijalani. Awal datang ke kampung nelayan di kalibaru, cilincing, bayang bayang kehidupan di kampung saya muncul.Beberapa teman dan saudara saya seolah datang kembali. Bertemu ibu Rastini yang menjadi orang tua angkat saya, saya sangat beruntung. 

Keluarga angkat saya berusaha mentreat saya dengan baik dengan kondisi seadanya.Saya terus berpikir selama live in bersama keluarga saya.Pada beberapa kesempatan evaluasi, mendengar curhatan teman teman peserta live in lainnya, ada yang berceritera bagaiamana dia di jamu dengan sangat luar biasa dengan makanan dan minuman yang enak dan lainnya. Sangat mengharukan di balik kemampuan para keluarga angkat yang sangat berkecukupan.

satu ikatan keluarga baru pun terbentuk. spontan pada beberapa momen, saya jadi homesick, rindu ibu di kampung. selama lima hari disana, apa yang saya peroleh dari bu rastini mengingatkan kembali dengan momen ketika saya bersama ibu saya dikampung. dan saya mendapatkannya kembali disini. Kehidupan keluarga baruku ini bisa dikatakan jauh dari kata cukup. Tetapi, satu hal yang membuat saya paling berkesan adalah semangat untuk survive dalam kondisi kehidupan yang demikian. Dibawah saya akan bercerita seperti apa kondisi kehidupan yang saya maksud. 

Saya hidup bersama keluarga baru ku di satu rumah yang disewa 600rbu/bulan seluas 3x9 meter. dapur, toilet, tempat tidur, dan ruang tamu semuanya terletak begitu dekat antara satu sama lain. penuh lalat karena mungkin pengaruh kerang. cuman kalau kata ibu memang ada musimnya. 

Bapakku adalah seorang yang memanggul kerang ketika diangkat dari laut ke perahu dan ketika menepi akan disambut oleh bapakku untuk dibawa ke lokasi perebusan kerang. Beliau adalah orang pertama yang menjadi pioneer manggul di kampung nelayan kalibaru.  
Bapakku bercerita bahwa +- 30 tahun yang lalu ketika berusia 20-an, beliau sudah memulai memanggul kerang dan dilakukan setiap hari selama 30 tahun sampai saat ini beliau berusia 48tahun. Bapak memanggul kerang dengan honor setiap 4 hari diberikan sekali. kalau bos kasih sejuta misalnya, maka akan dibagi dengan jumlah orang yang manggul misalnya 10, jadi bapak dpt 100rbu, begitulah penjelasan ibu pada saya. Ibuku adalah seorang kuli pengupas kerang, begitulah sebutan yang di katakan kepada saya. Bu Rastini adalah sosok yang sangat semangat, penuh energi dan lincah. Dalam sehari, beliau mampu mengupas sampai 17 kg kerang. 

Saya punya 4 saudara angkat. semuanya cowok. Yang pertama saya sangat jarang berjumpa dengannya. Dia hanya pulang ke rumah untuk mandi kemudian pergi ntah kemana, beberapa kesempatan ketika saya berkeliling, saya melihat dia berkumpul dengan temannya. usianya sudah 25-an, sekarang bekerja membantu bapak manggul. Yang kedua namanya Dayat, sekarang SMP kelas 2 adalah anak yang pendiam. saya yang pembawaannya cerewet merasa menderita ketika berada didekatnya. Ditanya satu dijawab satu. HAHAHA yang ketiga namanya Yusuf, sosok petualangan dan peta hidup. Dialah yang memandu kemanapun saya dan teman-teman pergi selama live in. Saat ini kelas 5 SD, dan telah mendapat beasiswa dari swasta. Anaknya baik banget, sangat penurut. Tidak pernah melawan orang tua selama saya mengamatinya, dan sangat penyayang. 

Yusuf punya seorang adik namanya Yahya, nah. kalau yahya memang agak bandel, boros juga iya. Dalam sehari, saya dapat menghitung beberapa kali yahya meminta jajan pada bapak dan ibu. dan dalam sekejap mata sudah habis untuk jajan. sepertinya memang sangat dimanja. Yahya adalah anak yang cerdas bagi saya. baru brusia 7 tahun, hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk menghafal 12 huruf alfabet. Daya tangkap dan daya ingat yang sangat keren jika dibandingkan dengan ketika saya berusia 7 tahun. Sayangnya, yahya memang agak malas. 

Pekerjaan utama bapak ibu berkaitan dengan kerang. hari pertama tiba, saya sudah ikut ibu untuk mengupas kerang. Sangat seru karena dulu ketika di kampung Bengkalis, saya sering bantu ibu saya mengupas kerang darah juga. selain itu, bau kerang yang baru direbus aduhai yee... langsung lapar awak dibuat. Hahaha selama mengupas kerang, ibu dibantu oleh beberapa ibu tetangga, ada Ibu umi dan ibu popon. Untuk hitung untung tetap sistemnya timbangan hasil kupas masing-masing. Ibu saya dapat lebih banyak memang karena dibantu oleh dayat dan yusuf dan tentunya saya. selama 5 hari kedepan, aktivitas yang saya kerjakan dan hal yang dapat saya perbuat untuk membantu ibu adalah mengupas kerang. hari ketiga ikut bapak manggul, cumannya bapak yang manggul, saya jadi tukang foto. HAHAHA satu karung bisa 60-80kg, bisa dilihat divideo dibawah, bapak kelihatannya enteng banget ngangkatnya. Emang bravo bapak gua. Huahahaha

Bapak sosok yang bermain logika dalam berpikir, tentunya logika dan perspektif dari sudut pandang seorang nelayan dan saya paling lekat dipikiran ketika bapak menyebut dirinya dan warga setempat sebagai orang kecil. Beliau memiliki kekhawatiran terkait kebijakan pemerintah atas reklamasi, pembangunan DAM, dan masih banyak. Ibu sosok yang lucu, sering ngelawak juga iya dan beliau sosok yang real. jadi keingat waktu itu kerang bru direbus diantar ke depan rumah, masih panas-panasnya, ibu membeli 2 bungkus sambal abc. coba tebak apa yang kita lakukan? hehehe serbulah kita memakan kerang habis rebus. besar-besar pulak. 

saya sangat menikamati momen-momen selama tinggal disana, I can write down every single moment that I spend with my new family. Bahkan dihari terakhir pas mau pamitan pulang, bapak sempat bilang, kok ga kerasa ya udah 5 hari aja. Kata ibu: orang bilang kalau menikmati, waktu terasa cepat berlalu. Mungkin saya dapat menyampaikan beberapa hal yang paling berkesan bagi saya selama disana. Hal-hal yang saya pelajari dari keluarga baruku. 
1. keluarga ku adalah keluarga yang sangat taat beribadah. setiap hari subuh, yusuf dan dayat pasti dibangunkan bapak-ibu untuk sholat. setiap waktu sholat tiba, bapak akan mengingatkan untuk ke mushola untuk sholat dan ngaji. Saya mengamatinya dengan saksama. Paling luar biasa adalah si yahya. usia 7 tahun, saya tanya: yahya tak sholat? yahya bilang: bapak bilang belom boleh masih terlalu kecil. But, guess what? ketika saya mau mengajar membaca dan menulis, dia tak bisa, tapi Yahya bisa mengaji dengan sangat baik. Amazing....
2. Dengan kehidupan yang sangat berkecukupan, keluarga ku ini memiliki tunjuk ajar pada anak yang sangat baik. Selama saya sanggup mengamati, tidak pernah sekalipun ketika dimarah, di nasehati, anak-anak melawan atau tidak sopan. Ibu bahkan bercerita, jika kakak paling tua ditampar pakai sandal, tetap tidak melawan, dia akan ambil balik sandal kemudian menyusunnya dengan rapih. 
3. Kondisi rumah saya lihat memang kurang terjaga kebersihannya. Masih saya ingat selama 3 malam tidur dengan lebih dari 200 lalat menyebar dan menggerayangi sekeluarga. sampai-sampai saya mengoleskan balsem dan freshcare dari kepala, leher, tangan, lutut, kaki, lutut, kaki. They seem careless. maka dimulailah perjuangan Jubaidah untuk mengusir lalat ditengah malam bermodal sapu dan jaket mengusir para lalat untuk keluar rumah. sia-sia. bru dihari keempat kata ibu, matikan aja lampu, ntar pergi sendiri kok lalatnya. Haiya kok ga bilang dari awal bu T.T salah saya sih ga nnya.
4. Secara finansial, keluarga saya sangat terbatas. sangat sangat terbatas. tetapi, fakta yang mengejutjan adalah dibalik keterbatasan tersebut, ibu bilang dalam sehari untuk jajan yahya dan bapak saja bisa mencapai 50ribu. shocking!! They need finansial management.
5. Paling berkesan bagi saya tepatnya pada hari ketiga paginya habis sarapan yang disuguhkan bapak, saya pergi berkeliling dengan yahya dan yusuf. disela sela ngobrol ga jelas, saya nanya ke yusuf: kamu besar mau jadi apa? yusuf sempat berpikir sejenak, kemudian kelihatan malu-malu. Sambil saya videoin, akhirnya dia bilang ingin menjadi supir kereta, jadi masinis. supaya bapak-ibu naik kereta bisa gratis. supaya kalau balik kekampung indramayu bisa bawa sekeluarga gratis lebih mudah. I saw hope in this child. Amazing!!! sangat konsisten juga. karena sebetulnya sebelumnya beberapa teman live in juga sudah cerita kalau yusuf ingin jadi masinis. good job yusuf!!

di hari terakhir, sesaat sebelum pulang, kita ada kegiatan perpisahan di rumah kerang, saya sudah bertekad sejak awal untuk tidak menangis. Eh eh eh, mak saya pulak nangis duluan, akhirnya pecah juga tangisan saya. kata mak, tahun-tahun sebelumnya dia tak nangis. baru tahun ini nangis. Huhu T.T Setelah acara saya balik antar ibu, kemudian kemas-kemas sesaat dan minta izin sama bapak-ibu, kemudian saya ke rumah kerang. ditengah perjalanan, ketemu yusuf, saya panggil itu anak, minta dia antarin saya ke rumah kerang. Sepanjang jalan, saya bikin janji sama yusuf untuk selalu meningat 5 hal:
1. Jujur
2. Dengar kata orang tua
3. kejar mimpi jadi masinis.
4. Ajar baca dan tulis ke Yahya,
5. Sudah, 4 itu saja cukup. hahaha 

Yusuf dan Yahya sempat beberapa kali bilang pada saya: kak, jangan pulang hari ini lah... pulang besok saja. saya hanya bisa terdiam tanpa sepatah katapun.

Selama live in, bersama teman teman juga memiliki banyak ativitas lain, ada project kelompok yang mana pada kelompok saya melakukan senam osteoporosis bersama para lansia. 'selain itu keseruan naik odong-odong yang diprakarsai idenya dr. kiki. keliling hingga ke pembakaran mayat, kesesat sampai ke vihara ntah jalan apa namanya, dan masih banyak keseruan lainnya. 

Paling penting adalah dari live in, saya menjadi lebih berempati, dari sana muncul satu rasa bahwa i might be able to do something for people and families with that condition. Saya menjadi lebih sensitif dengan lingkungan sekitar. Dan skrg dalam pikiran saya, i create a pattern and parameter of my life. That I should be gratitude and be optimistic. It shakes my comfort zone once again. Saya memunculkan satu pemikiran, bila saja saya hidup demikian, apa yang akan terjadi? Apa yang dapat saya lakukan. And in fact, hidup saya selama 5 hari persis seperti itu.Then what will you do? Hal yang paling sulit adalah memunculkan pikiran tsb. Yang menarik adalah keluarga ku dan warga setempat yang hidup dengan kondisi demikian saja masih hidup dengan penuh optimis. saya yang memiliki segala keperluan tercukupi masih hidup menyia-nyiakan waktu. 
Kegiatan live in ini membuka mata saya. I am blessed. Thanks PPAN DKI Jakarta 2017. Once again you open my eye and my heart. _/\_


Dokumentasi selama saya live in:



























Komentar